Buku ini salah satu bahan pembelajaran kami ketika di semester I di UHN pada subject TEFL. Dosen Pengampu Mam Reina Sipahutar, beliau memberikan kami tugas perkelompok dengan menyiapkan makalah, lesson plan dan teaching practice sesuai metode apa yang dibawa tiap kelompok di depan kelas dengan teman sendiri sebagai siswanya. Sehingga akhir semester kami dapat membandingkan perbedaan dari tiap-tiap metode pembelajaran TEFL, apa kelebihan dan kekurangan, dan metode mana yang lebih baik diterapkan pada siswa sesuai dengan level kemampuannya. ebooknya bisa di DOWNLOAD disini
Selasa, 08 November 2016
[Lesson Plan] Filsafat Ilmu
Lesson Plan ini dibuat sebagai rujukan saya ketika mengikuti teaching
practice yang diwajibkan kepada mahasiswa semester 3 di sela-sela mengikuti
sisa mata kuliah dan penyusunan thesis guna menyelesaikan program studi
magister pendidikan bahasa inggris di Pasca UHN Pematangsiantar.
LESSON PLAN
Nama Dosen : Yulia R.R.
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Jumlah SKS : 2
Semester : Ganjil 2016/2017
Pertemuan ke : 11
Alokasi waktu : 1 x 45 menit
Materi Kuliah : Ontologi, epistemologi, dan aksiologi pengetahuan filsafat
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Jumlah SKS : 2
Semester : Ganjil 2016/2017
Pertemuan ke : 11
Alokasi waktu : 1 x 45 menit
Materi Kuliah : Ontologi, epistemologi, dan aksiologi pengetahuan filsafat
I.Standar
Kompetensi
Mahasiswa dapat menerapkan filsafat ilmu sebagai landasan berfikir
Mahasiswa dapat menerapkan filsafat ilmu sebagai landasan berfikir
II. Kompetensi
Dasar
1. Memahami pengetahuan filsafat
1. Memahami pengetahuan filsafat
III. Indikator
keberhasilan.
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami Ontologi pengetahuan filsafat
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami Ontologi pengetahuan filsafat
2. Memahami epistemologi pengetahuan filsafat
3. Memahami aksiologi pengetahuan filsafat
IV. Materi Ajar
Classroom Procedure
– Preparation
– Teaching and Learning Activity
– Evaluation
Classroom Procedure
– Preparation
– Teaching and Learning Activity
– Evaluation
V. Strategi
Pembelajaran
1. Tanya jawab
1. Tanya jawab
2. Curah pendapat
3. Presentasi
VI. Tahap
Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1.
Dosen memberikan ilustrasi tentang bagaimana Pengetahuan
filsafat
2.
Mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjawab dan mendefinisikan Pengetahuan filsafat.
3.
Dosen menyampaikan tujuan dan pentingnya perkuliahan.
4.
Dosen menyampaikan kompetensi dasar dan indikator.
B. Kegiatan Inti
1.
Dosen memberikan penjelasan umum tentang pengetahuan filsafat yang merupakan bagian
dari jenis pengetahuan.
2.
Dosen menjelaskan tentang ontologi, epistemologi, dan
aksiologi pengetahuan filsafat
3.
Dosen melakukan evaluasi dan penugasan.
C. Kegiatan akhir
1.
Menyimpulkan materi tentang pengetahuan filsafat
2.
Melakukan refleksi terhadap proses dan materi perkuliahan
3.
Dosen memberikan dorongan psikologis tentang tujuan
dan manfaat pengetahuan filsafat
4.
Dosen meminta mahasiswa untuk membaca dan membuat
rangkuman mengenai pengetahuan filsafat dan dikumpulkan pada pertemuan
berikutnya
VII. Alat dan sumber
A. Alat / media :
A. Alat / media :
LCD, laptop
B. Sumber Belajar :
1.
Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangan di
Indonesia. Jakarta: Bumi Putra.
2.
Jujun S. Sumantri. 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah
Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
3.
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2001. Filsafat Ilmu.
Yogyakarta; Liberty.
4.
Ahmad Tafsir. Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi,
Epistimologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
5.
Jerome R. Ravertz. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
6.
Redja Mudyahardjo. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan.
Bandung: Remaja Rosda Karya.
7.
C. Verhaat & R. Haryono Imam. 1989. Filsafat Ilmu
Pendidikan. Jakarta: Gramedia
VIII. Evaluasi
1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas
2. Makalah kelompok
1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas
2. Makalah kelompok
Lebih lengkap untuk pertemuan 1-17 disini
Rabu, 02 November 2016
[Lesson Plan] TEFL
Dikarenakan saya mulai masuk teaching practice setelah mid semeser selesai, saya melanjutkan materi yang sebelumnya dibawa oleh Dosen Pamong saya. Sebelum melakukan teaching practise di kelas, saya bersama 3 orang teman yang merupakan satu tim dibawah asuhan Dosen Pamon ini, kami melakukan banyak diskusi, apa keluhan dan kekurangan, dan mengatur jadwal, dikarenakan kami memang semuanya pekerja, bukan mahasiswa full study.
LESSON
PLAN
Nama
Dosen : Yulia R.R.
Mata Kuliah : TEFL
Jumlah SKS : 2
Semester : Ganjil 2016/2017
Pertemuan ke : 11, 12
Alokasi waktu : 4 x 50 menit
Materi Kuliah : Classroom Application on Natural Approach
Mata Kuliah : TEFL
Jumlah SKS : 2
Semester : Ganjil 2016/2017
Pertemuan ke : 11, 12
Alokasi waktu : 4 x 50 menit
Materi Kuliah : Classroom Application on Natural Approach
I.Standar Kompetensi
Mahasiswa dapat memahami prinsip pembelajaran dengan pendekatan Natural Approach
Mahasiswa dapat memahami prinsip pembelajaran dengan pendekatan Natural Approach
II. Kompetensi Dasar
1. Memahami dan memiliki pengetahuan latar tentang pendekatan Natural Approach
2. Mendeskripsikan konsep dasar dan aplikasi pendekatan Natural Approach
1. Memahami dan memiliki pengetahuan latar tentang pendekatan Natural Approach
2. Mendeskripsikan konsep dasar dan aplikasi pendekatan Natural Approach
III. Indikator keberhasilan.
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan latar belakang Natural Approach
2. Menjelaskan konsep dasar Natural Approach
3. Menjelaskan aplikasi pendekatan Natural Approach
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan latar belakang Natural Approach
2. Menjelaskan konsep dasar Natural Approach
3. Menjelaskan aplikasi pendekatan Natural Approach
IV. Materi Ajar
Classroom Procedure
– Preparation
– Teaching and Learning Activity
– Evaluation
Classroom Procedure
– Preparation
– Teaching and Learning Activity
– Evaluation
V. Strategi Pembelajaran
1. Presentasi kelompok
2. Tanya jawab/diskusi
1. Presentasi kelompok
2. Tanya jawab/diskusi
VI. Tahap Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1. Dosen memberi penjelasan arah presentasi dan diskusi
A. Kegiatan Awal
1. Dosen memberi penjelasan arah presentasi dan diskusi
B.
Kegiatan Inti
1. Presentasi kelompok yang mendapat giliran maju ke depan kelas
2. Kelompok lain merespon dengan bertanya
3. Dosen sebagai fasilitator, menampung permasalahan dan mereview hasil diskusi
1. Presentasi kelompok yang mendapat giliran maju ke depan kelas
2. Kelompok lain merespon dengan bertanya
3. Dosen sebagai fasilitator, menampung permasalahan dan mereview hasil diskusi
C.
Kegiatan akhir
Dosen membuat rangkuman hasil diskusi, dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya
Dosen membuat rangkuman hasil diskusi, dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya
VII.
Alat dan sumber
A. Alat / media : LCD, laptop
B. Sumber relajar :
1. Brown, H. Douglas. Teaching by Principles. Second Edition. San Francisco ; Longman. 2001
2. Krashen, D. Stephen and Tracy D. Terrel. The Natural Approach.New Jersey: Regent Prentice Hall. 1986.
A. Alat / media : LCD, laptop
B. Sumber relajar :
1. Brown, H. Douglas. Teaching by Principles. Second Edition. San Francisco ; Longman. 2001
2. Krashen, D. Stephen and Tracy D. Terrel. The Natural Approach.New Jersey: Regent Prentice Hall. 1986.
3.
Larsen-Freeman, Diane. Techniques and Principles in Language Teaching. Oxford:
Oxford university Press. 1986
VIII. Evaluasi
1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas
2. Makalah kelompok
1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas
2. Makalah kelompok
Lebih lengkap untuk pertemuan 1-17 disini
Selasa, 01 November 2016
Code-Mixing dan Code-Switching
Code-switching (alih kode) dan Code-mixing (campur
kode) sering kali terjadi dalam berbagai percakapan masyarakat, Code-Mixing dan
Code-Switching dapat terjadi di semua kalangan masyarakat, status sosial
seseorang tidak dapat mencegah terjadinya Code-Mixing maupun Code-Switching
atau sering disebut multi bahasa (multilingual). Masyarakat yang multi bahasa
muncul karena masyarakat tutur tersebut mempunyai atau menguasai lebih dari
satu bahasa yang berbeda-beda sehingga mereka dapat menggunakan pilihan bahasa
tersebut dalam kegiatan berkomunikasi. Terutama masyarakat Indonesia yang
memang terdiri dari ragam suku dan bahasa. Dalam kajian sosiolinguistik,
pilihan-pilihan bahasa tersebut kemudian dibahas karena hal ini merupakan aspek
penting yang dikaji dalam suatu ilmu kebahasaan.
Thelander mengatakan apabila didalam suatu peristiwa
tutur terdapat klausa-klausa atau frase-frase yang digunakan terdiri dari
klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing
klausa dan frase tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa
yang terjadi ini adalah campur kode (code-mixing). Kemudian Nababan mengatakan
campur kode (code-mixing) yaitu suatu keadaan berbahasa lain ialah bila orang
mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa
tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu.
Maksudnya adalah keadaan yang tidak memaksa atau menuntut seseorang untuk mencampur
suatu bahasa ke dalam bahasa lain saat peristiwa tutur sedang berlangsung. Jadi
penutur dapat dikatakan secara tidak sadar melakukan percampuran
serpihan-serpihan bahasa ke dalam bahasa asli. Code mixing serupa dengan
interfensi dari bahasa satu ke bahasa lain.
Misalnya:
"jangan suka nge-judge gitu dong. orang
kan beda-beda"
(kata "judge" merupakan kata dalam bahasa
inggris yang disisipkan ke dalam pengucapan bahasa indonesia).
Nah, disini kita lihat bahwa code-mixing tidak
berganti di seluruh kalimat, tetapi hanya pada satu-dua kata saja dengan bahasa
asing agar terlihat lebih keren atau berterima. Menurut saya, penggunaan code
mixing ini juga dikarenakan, ada sebagian dari kata-kata tersebut yang arti
atau maknanya lebih menekan atau 'pas' tingkat kedalaman maknanya. Ini terjadi
juga secara tidak sadar, karena kadang-kadang otak kita memiliki banyak
leksikon yang bercampur aduk dan kita sering menggunakan lebih dari satu
bahasa.
Contoh lainnya :
Lilis : Eda, tugasmu udah siap?
Afdel : udah donk
Lilis :
Dapat bahan darimana?
Afdel :
Browsing-lah kak, kan banyak tuh bahan disana, rajin baca aja.
Hal yang sama dari code switching dan code mixing, ya
keduanya lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua
bahasa atau lebih.
Perbedaannya alih kode (code switching) terjadi antara
bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan
sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu, sementara campur kode (code
mixing) terjadi pada suatu kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki
fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan
bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan
otonomi sebagai sebuah kode.
Nababan mengatakan bahwa Alih kode (code
switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode (bahasa) ke kode yang
lain dalam suatu peristiwa tutur.
Contoh:
Afdel : Eda, kak Lilis belom datang ya?
Lia : Belum, padahal sebentar lagi sudah hampir
setengah sembilan,
tutup waktu absen.
Afdel : Eh, itu dia datang. Eh, kak lis asi leleng ko ro?
Kak Lilis : "Wi, pature anakku dope, Ayah si Nadia kehe tu Panyabungan karejo.
Kak Lilis : "Wi, pature anakku dope, Ayah si Nadia kehe tu Panyabungan karejo.
Code Switching disini terjadi antara Afdel dan kak Lilis merupakan berasal dari
daerah yang sama, yaitu Panyabungan sehingga memungkinkan penggunaan bahasa
daerah.
Langganan:
Postingan (Atom)


