Selasa, 08 November 2016

Techniques and Principles in Language Teaching-Diane Larsen-Freeman

Buku ini salah satu bahan pembelajaran kami ketika di semester I di UHN pada subject TEFL. Dosen Pengampu Mam Reina Sipahutar, beliau memberikan kami tugas perkelompok dengan menyiapkan makalah, lesson plan dan teaching practice sesuai metode apa yang dibawa tiap kelompok di depan kelas dengan teman sendiri sebagai siswanya. Sehingga akhir semester kami dapat membandingkan perbedaan dari tiap-tiap metode pembelajaran TEFL, apa kelebihan dan kekurangan, dan metode mana yang lebih baik diterapkan pada siswa sesuai dengan level kemampuannya. ebooknya bisa di DOWNLOAD   disini



[Lesson Plan] Filsafat Ilmu



Lesson Plan ini dibuat sebagai rujukan saya ketika mengikuti teaching practice yang diwajibkan kepada mahasiswa semester 3 di sela-sela mengikuti sisa mata kuliah dan penyusunan thesis guna menyelesaikan program studi magister pendidikan bahasa inggris di Pasca UHN Pematangsiantar.  

LESSON PLAN


Nama Dosen              : Yulia R.R.
Mata Kuliah                : Filsafat Ilmu
Jumlah SKS                 : 2
Semester                    : Ganjil 2016/2017
Pertemuan ke            : 11
Alokasi waktu            : 1 x 45 menit
Materi Kuliah             : Ontologi, epistemologi, dan aksiologi pengetahuan filsafat 

I.Standar Kompetensi
Mahasiswa dapat menerapkan filsafat ilmu sebagai landasan berfikir

II. Kompetensi Dasar
1. Memahami pengetahuan filsafat

III. Indikator keberhasilan.
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami Ontologi pengetahuan filsafat 
2. Memahami epistemologi pengetahuan filsafat
3. Memahami aksiologi pengetahuan filsafat

IV. Materi Ajar
Classroom Procedure
– Preparation
– Teaching and Learning Activity
– Evaluation

V. Strategi Pembelajaran
1. Tanya jawab
2. Curah pendapat
3. Presentasi

VI. Tahap Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1.      Dosen memberikan ilustrasi tentang bagaimana Pengetahuan filsafat
2.      Mahasiswa diberikan kesempatan untuk  menjawab dan mendefinisikan Pengetahuan filsafat. 
3.      Dosen menyampaikan tujuan dan pentingnya perkuliahan.
4.      Dosen menyampaikan kompetensi dasar dan  indikator.

B. Kegiatan Inti
1.      Dosen memberikan penjelasan umum tentang  pengetahuan filsafat yang merupakan bagian dari jenis pengetahuan.
2.      Dosen menjelaskan tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi pengetahuan filsafat 
3.      Dosen melakukan evaluasi dan penugasan.

C. Kegiatan akhir
1.      Menyimpulkan materi tentang pengetahuan filsafat
2.      Melakukan refleksi terhadap proses dan materi perkuliahan
3.      Dosen memberikan dorongan psikologis tentang tujuan dan manfaat pengetahuan filsafat
4.      Dosen meminta mahasiswa untuk membaca dan membuat rangkuman mengenai pengetahuan filsafat dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya


VII. Alat dan sumber
A. Alat / media :
LCD, laptop

B. Sumber Belajar :
1.      Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangan di Indonesia. Jakarta: Bumi Putra.
2.      Jujun S. Sumantri. 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
3.      Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta; Liberty.
4.      Ahmad Tafsir. Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
5.      Jerome R. Ravertz. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
6.      Redja Mudyahardjo. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.  
7.      C. Verhaat & R. Haryono Imam. 1989. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jakarta: Gramedia

VIII. Evaluasi
1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas
2. Makalah kelompok

Lebih lengkap untuk  pertemuan 1-17 disini


Rabu, 02 November 2016

[Lesson Plan] TEFL


Dikarenakan saya mulai masuk teaching practice setelah mid semeser selesai, saya melanjutkan materi yang sebelumnya dibawa oleh Dosen Pamong saya. Sebelum melakukan teaching practise di kelas, saya bersama 3 orang teman yang merupakan satu tim dibawah asuhan Dosen Pamon ini, kami melakukan banyak diskusi, apa keluhan dan kekurangan, dan mengatur jadwal, dikarenakan kami memang semuanya pekerja, bukan mahasiswa full study. 

LESSON PLAN

Nama Dosen              : Yulia R.R.
Mata Kuliah                : TEFL
Jumlah SKS                 : 2
Semester                    : Ganjil 2016/2017
Pertemuan ke            : 11, 12
Alokasi waktu            : 4 x 50 menit
Materi Kuliah             : Classroom Application on Natural Approach

I.Standar Kompetensi
Mahasiswa dapat memahami prinsip pembelajaran dengan pendekatan Natural Approach

II. Kompetensi Dasar
1. Memahami dan memiliki pengetahuan latar tentang pendekatan Natural Approach
2. Mendeskripsikan konsep dasar dan aplikasi pendekatan Natural Approach

III. Indikator keberhasilan.
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan latar belakang Natural Approach
2. Menjelaskan konsep dasar Natural Approach
3. Menjelaskan aplikasi pendekatan Natural Approach

IV. Materi Ajar
Classroom Procedure
– Preparation
– Teaching and Learning Activity
– Evaluation

V. Strategi Pembelajaran
1. Presentasi kelompok
2. Tanya jawab/diskusi

VI. Tahap Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1. Dosen memberi penjelasan arah presentasi dan diskusi

B. Kegiatan Inti
1. Presentasi kelompok yang mendapat giliran maju ke depan kelas
2. Kelompok lain merespon dengan bertanya
3. Dosen sebagai fasilitator, menampung permasalahan dan mereview hasil diskusi

C. Kegiatan akhir
Dosen membuat rangkuman hasil diskusi, dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya

VII. Alat dan sumber
A. Alat / media : LCD, laptop
B. Sumber relajar :
1. Brown, H. Douglas. Teaching by Principles. Second Edition. San Francisco ; Longman. 2001
2. Krashen, D. Stephen and Tracy D. Terrel. The Natural Approach.New Jersey: Regent Prentice Hall. 1986.
3. Larsen-Freeman, Diane. Techniques and Principles in Language Teaching. Oxford: Oxford university Press. 1986

VIII. Evaluasi
1. Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas
2. Makalah kelompok

Lebih lengkap untuk  pertemuan 1-17 disini
 

Selasa, 01 November 2016

Code-Mixing dan Code-Switching


Code-switching (alih kode) dan Code-mixing (campur kode) sering kali terjadi dalam berbagai percakapan masyarakat, Code-Mixing dan Code-Switching dapat terjadi di semua kalangan masyarakat, status sosial seseorang tidak dapat mencegah terjadinya Code-Mixing maupun Code-Switching atau sering disebut multi bahasa (multilingual). Masyarakat yang multi bahasa muncul karena masyarakat tutur tersebut mempunyai atau menguasai lebih dari satu bahasa yang berbeda-beda sehingga mereka dapat menggunakan pilihan bahasa tersebut dalam kegiatan berkomunikasi. Terutama masyarakat Indonesia yang memang terdiri dari ragam suku dan bahasa. Dalam kajian sosiolinguistik, pilihan-pilihan bahasa tersebut kemudian dibahas karena hal ini merupakan aspek penting yang dikaji dalam suatu ilmu kebahasaan.

Thelander mengatakan apabila didalam suatu peristiwa tutur terdapat klausa-klausa atau frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa dan frase tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi ini adalah campur kode (code-mixing). Kemudian Nababan mengatakan campur kode (code-mixing) yaitu suatu keadaan berbahasa lain ialah bila orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu. Maksudnya adalah keadaan yang tidak memaksa atau menuntut seseorang untuk mencampur suatu bahasa ke dalam bahasa lain saat peristiwa tutur sedang berlangsung. Jadi penutur dapat dikatakan secara tidak sadar melakukan percampuran serpihan-serpihan bahasa ke dalam bahasa asli. Code mixing serupa dengan interfensi dari bahasa satu ke bahasa lain.
Misalnya:
"jangan suka nge-judge gitu dong. orang kan beda-beda
(kata "judge" merupakan kata dalam bahasa inggris yang disisipkan ke dalam pengucapan bahasa indonesia).

Nah, disini kita lihat bahwa code-mixing tidak berganti di seluruh kalimat, tetapi hanya pada satu-dua kata saja dengan bahasa asing agar terlihat lebih keren atau berterima. Menurut saya, penggunaan code mixing ini juga dikarenakan, ada sebagian dari kata-kata tersebut yang arti atau maknanya lebih menekan atau 'pas' tingkat kedalaman maknanya. Ini terjadi juga secara tidak sadar, karena kadang-kadang otak kita memiliki banyak leksikon yang bercampur aduk dan kita sering menggunakan lebih dari satu bahasa. 

Contoh lainnya :
Lilis                 : Eda, tugasmu udah siap?
Afdel               : udah donk
Lilis                 : Dapat bahan darimana?
Afdel               : Browsing-lah kak, kan banyak tuh bahan disana, rajin baca aja.

Hal yang sama dari code switching dan code mixing, ya keduanya lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. 

Perbedaannya alih kode (code switching) terjadi antara bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu, sementara campur kode (code mixing) terjadi pada suatu kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. 

Nababan mengatakan bahwa Alih kode (code switching) adalah peristiwa peralihan dari satu kode (bahasa) ke kode yang lain dalam suatu peristiwa tutur.
Contoh: 
Afdel               : Eda, kak Lilis belom datang ya?
Lia                   : Belum, padahal sebentar lagi sudah hampir setengah sembilan, 
                          tutup waktu absen.
Afdel               : Eh, itu dia datang. Eh, kak lis asi leleng ko ro? 
Kak Lilis          : "Wi, pature anakku dope, Ayah si Nadia kehe tu Panyabungan karejo.

Code Switching disini terjadi antara Afdel dan kak Lilis merupakan berasal dari daerah yang sama, yaitu Panyabungan sehingga memungkinkan penggunaan bahasa daerah.